Dongeng Para Peziarah - Cerita Siswa oleh Nabila Gadis Pramesti
Siang itu, matahari sedang bersemangat membara. Di depan gapura berwarnaabu-abu itu langkahnya terhenti, bagian atas gapura itu berbentuk seperti atap yang berlapis lapis dengan beberapa detail berwarna emas. Dihiasi dengan papan nama di tengah yang tulisannya terlihat tegas disapa matahari, salah satu hurufnya sudah pudar ditelan waktu, hanya meninggalkan bayang-bayang yang entah disingkirkan kemana. Terdapat lafadz suci di atasnya, dilingkari dengan lingkaran kelopak perak berbentuk bunga makam. Di sana, ia terpaku menatap gerbang yang bisu, menyimpan berbagai cerita yang belum selesai. Di luar, banyak kendaraan berlalu lalang, lewat dengan acuh tak acuh seolah tak peduli dengan kebenaran yang belum terungkap. Tak jauh ke dalam, hanya sunyi yang menyambut, menyisakan dedaunan di atas pepohonan yang menari nari bersama angin. Kesunyian itu membuat bulu kuduknya berdiri, namun di lubuk hatinya, ia menikmati suasana yang tenang ini, jauh dari kata ramai. Di sini, banyak makam-makam tanpa identitas, bukan tanpa nama, tapi tanpa cerita. Mereka bilang hanya keturunan yang boleh masuk kemari, tapi akal cerdas mereka justru berkata sebaliknya. Agar apa dimakamkan di sini? Jawabannya, untuk mendapat doa-doa dari orang ramai. Malangnya, orang-orang yang tidak berdosa itu sering sekali termakan tipu daya mereka. Mereka lebih mempercayai satu mulut daripada buku yang berisi cerita asli. Pengelola lama juga pandai mencari perhatian masyarakat, mereka memiliki kedudukan yang suci di mata masyarakat, tapi kedudukan suci tidak menjamin orang tersebut juga suci.
Dijebak kesunyian,
pikirannya mencoba memecah kehampaan. Matanya tertuju pada salah satu pria tua
berbaju merah yang berlesehan di atas lantai yang dingin, di sekitarnya
terdapat orang-orang yang juga berkeliaran tanpa arah. Setiap hari mereka
melakukan rutinitas istimewa mereka, mulai dari zaman awal dibuka hingga
sekarang. Selain benda-benda mati yang ada di makam, mereka juga turut menjadi
saksi bisu betapa egoisnya orang-orang berakal dalam urusan warisan. Baik
pengurus lama maupun pengurus baru selalu bertindak acuh tak acuh terhadap
mereka. Aku yakin mereka tidak menolak, hanya mengabaikan. Karena segelap
apapun hati seseorang, pasti masih memiliki rasa empati yang bmenghiasi hatinya
walau hanya setitik. Pria tua itu termenung menatap langit-langit yang kosong,
memikirkan kenangan yang masih tersimpan di benaknya.
Tiba-tiba, terdengar
suara langkah kaki seseorang yang memecah keheningan seutuhnya. Ada seorang
laki-laki yang ingin masuk ke area
makam, ia mengenakan almet berwarna biru sepadaan dengan celana jeans yang ia
kenakan, totebag berwarna putih kotak ia bawa di lengan kanannya, rambutnya
agak berantakan, wajahnya terlihat lelah, ia mengenakan kacamata berbentuk
lingkaran. Saat
akan melangkahkan kaki ke dalam, langkah kakinya terhenti sejenak, menatap
sekeliling yang sama sekali tidak menandakan adanya kehidupan. Baru melintasi
gapura, langkahnya langsung tertuju npada papan putih Panjang berisi
pemberitahuan. Matanya berbinar penasaran, di sana, tertulis berbagai aturan
bagi pengunjung makam dan orang-orang yang ingin dimakamkan di sini, ia
mengambil buku catatan dan pensilnya, mencatat semua yang tertulis di papan
tersebut sambil mencoba memahami apa maksudnya. Matanya tertuju lagi pada
sebuah pos kotak kecil berwarna biru, di sana tertulis bahwa tamu wajib
melapor. Namun karena tidak melihat seorang pun di dalam, ia berkeliling
sedikit menikmati pemandangan yang tersaji, banyak orang-orang asing di sini
yang seolah tidak terganggu dengan kehadirannya. Akhirnya ia memutuskan untuk
langsung masuk ke dalam, di area makam, terdapat banyak sekali makam makam yang
berukuran sama dan berjejeran, banyak yang berada tepat di bawah pohon. Tidak
dijelaskan bagaimana ceritanya bisa ada di sini.
Matanya berkeliling lagi,
kali ini ia melihat beberapa gapura yang bertuliskan nama-nama makam, terdapat
gapura berwarna hijau yang bertuliskan Makam Sunan Boto Putih. Ia melihat ke
atas ke arah papan nama itu, ini adalah makam yang dicarinya. Sebelum masuk ia
menengok ke dalam, terlihat ada beberapa orang yang sedang berziarah. Ia
melepas alas kakinya dan mengucapkan salam sebelum masuk, di dalam, ia
menghampiri seorang pria berpeci hitam yang sedang duduk bermain ponsel, ia
memperkenalkan diri dan bertanya kepada orang tersebut, akan tetapi orang itu
tidak tahu apa-apa tentang yang ia tanyakan dan malah melemparnya ke orang yang
sedang menyapu makam di seberang. Ia memperkenalkan diri dan bertanya lagi
kepada orang itu, namun sayang, hasilnya nihil lagi. Ia justru diarahkan untuk
langsung bertanya ke pos depan. Keheranan timbul di benaknya, karena tak
seorang pun ia lihat berada di dalam pos saat masuk tadi. Ia hanya menuruti apa
kata orang itu, karena memang tak tahu lagi harus bertanya kemana. Di depan
pos, ia mengintip melalui celah yang ada, terlihat seorang pria sedang tidur di
dalam. Ia mengucapkan salam yang membuat orang tersebut terbangun, orang itu
merapikan rambutnya yang gondrong, dan lagi-lagi saat ia bertanya, ia malah
dilempar ke tempat lain. Saat bertanya tentang asal usul, bukannya mendapat
jawaban ia malah dilempar lagi diarahkan untuk langsung masuk ke dalam. Ia
manusia, tapi bagai bola yang dilempar lempar.
Aku merasa kasihan
terhadap orang ini, bukannya mendapat jawaban yang jelas, ia jutsru malah
dilempar lempar seperti bola tenis. Aku mengikuti terus bayang bayangnya, dan
langkah kakinya terhenti karena ia terkesima melihat sebuah bangunan mewah, ia
mengira bangunan tersebut adalah masjid. Sama, Aku dulu juga mengira seperti
itu saat bangunan ini masih dalam proses pembangunan. Siapa yang tidak akan
berpikiran seperti itu jika bangunannya terlihat semewah itu, tikar biru
melapisi lantainya, dan tiang-tiang putih kukuh menghiasi dalamnya. Makanan
ringan berjejer di dalam toples di dalam rak kaca di depan bangunan tersebut,
entah itu untuk siapa, dari dulu tidak pernah disajikan pada tamu manapun.
Mereka menyimpan itu untuk apa? Koleksi? Entahlah. Matanya tertuju pada seorang
pria yang mengenakan peci putih dengan rambut panjangnya diikat ke belakang,
pasti ini juru kunci yang dimaksud orang di pos tersebut.
“Permisi pak, nama saya Rifky, saya
kemari ingin menanyakan terkait asal usul Sunan Boto Putih untuk tugas mata
kuliah saya. Apa bapak bisa membantu saya?” tanya si mahasiswa tersebut.
“Oh iya mas, silakan duduk di
dalam saja ya.” balas juru kunci tersebut.
Mahasiswa tersebut melepas alas
kakinya dan masuk ke dalam, meletakkan tasnya di lantai dan mengeluarkan alat
tulisnya, bersiap untuk mencatat apapun yang dikatakan. Biasa mahasiswa
semester awal, sedang rajin rajinnya.
“Jadi begini mas, menurut kitab yang
saya baca, dulu itu makam ini aslinya kerajaan yang dipimpin oleh Adipati Jawa
Timur, Tjokronegoro nama rajanya, tapi dulu kerajaan ini diserang oleh
pemerintah Belanda. Raja ini meminta bantuan kepada rekannya yang ada di
Madura, ia mengirim bala bantuan ke Kerajaan ini, namun saking kayanya, bukannya
diperangi, malah dibeli sama habib ini.” Ucap si juru kunci.
“Kalau asal usul Sunan Boto Putih
bib?” tanya si mahasiswa.
“Menurut sumber yang saya baca, dulu
Sunan Boto Putih itu seorang pangeran
yang menghanyutkan diri di laut dan ditemukan oleh Kyai Kendil Wesi, setelah
berguru, ia dikirim ke Surabaya untuk membantu Sunan Ampel.” jelas si juru
kunci.
“Sumbernya dari mana pak kalau boleh
tahu?” tanya si mahasiswa lagi.
“Eh … Maaf ya mas, saya tidak bisa
memberitahu karena situasi sedang tidak kondusif, dan saya juga ada urusan
setelah ini, jadi maaf ya sekali lagi saya tidak bisa memberitahu lebih lanjut.
Demi keselamatan bersama, lebih baik mas pulang saja.” jawab si juru kunci.
“Oh … yasudah bib kalau begitu
saya pamit dulu, permisi ..” balas si mahasiswa.
Mana mungkin diberi tahu.
Si mahasiswa akhirnya memutuskan untuk pulang, tanpa tahu alasan jelas mengapa
ia harus pulang. Ia hanya menurut.
Di perjalanan keluar, ia
melihat ada seorang pria tua berbaju merah yang tiba-tiba menempelkan tangannya
ke batu putih di depan makam Sunan Boto Putih, hal itu sangat amat membuatnya
penasaran, apa yang dilakukan orang tersebut ia pun tidak tahu, bahkan Aku juga
tidak tahu. Mungkin dia sedang bertapa? Biarkan saja lah. Terkadang orang yang
tidak waras secara akal justru malah waras soal hati nurani. Sedangkan orang
yang kita anggap selama ini berakal, spesies paling pintar justru seringkali
lebih mementingkan kepentingannya sendiri. Orang gila itu meninggalkan batu itu
dengan pose ikoniknya, kedua tangannya ia letakkan kebelakang lalu ia berjalan
jalan lagi entah kemana.
Memang di daerah ini rawan
konflik, dulu juru kunci lama sempat terlibat bentrokan dengan juru kunci yang
baru, terkait masalah juru parkir ilegal dan masalah pengelolaan. Pagi itu
pihak pengelola baru datang untuk melakukan sosialisasi tentang kebijakan baru
mereka.
“Permisi bapak, selamat siang. Kami
dari pihak pengelola baru datang kemari untuk melakukan sosisalisasi tentang
kebijakan baru kami. Sebelumnya, kalau boleh tahu bapak ini siapa ya?” Ucap
salah satu petugas pengelola baru.
“Saya? Saya juru parkir di sini,
kenapa?” balas si juru parkir.
“Kami ingin berbicara langsung dengan
pihak pengelola, apakah boleh kami masuk?” tanya salah satu petugas.
“Masuk aja.” balas si juru parkir
Di dalam, mereka berbincang-bincang
dengan juru kunci yang lama.
“Pak, kami kemari untuk melakukan
sosialisasi terkait kebijakan baru kami, yang berisi tentang tata cara
pengelolaan cagar budaya yang baru. Dimana itu bertuliskan bahwa penghasilan harus
dimasukkan ke pajak negara apabila situs tersebut termasuk cagar budaya. Dan
juru parkir ilegal itu dilarang pak.” Ucap salah satu petugas.
“Berapa persen? Untung saya jadi
berkurang dong?” tanya si juru kunci.
“Sekitar 30% persetujuannya pak.”
jelas salah satu petugas.
“Jika bapak setuju soal juru parkir,
kami bisa bantu daftarkan.” tanya salah satu petugas
“Oke saya setuju. Tapi euntungan saya
bagaimana?! Tidak mau saya!” jawab si juru kunci.
“Maaf pak, ini sudah kebijakan
pemerintah.” jawab salah satu petugas.
Sebenarnya tidak
diperbolehkan memungut uang parkir ilegal tanpa izin dari pemerintah, meskipun
lahan tersebut menjadi milik juru kunci, namun tetap saja, situs tersebut
merupakan cagar budaya yang ramai dikunjungi, masyarakat berhak merasa aman.
Bunga yang sudah mekar pasti terasa sayang untuk dicabut kembali, rumor palsu
yang membuat makam ini sering dikunjungi pasti juga sulit untuk diungkap
kebenarannya, karena pihak mereka merasa diuntungkan, walau teror mengerikan
yang membuat kedua pihak hampir melayangkan pukulan itu sudah berlalu, namun
dampaknya akan tetap terbawa masa. Si juru kunci lama pandai memutar balikkan
fakta, ia membuat masyarakat percaya bahwa dirinya lah yang tersakiti dengan
menyebar cerita palsu. Hal itu membuat masyarakat membenci pengelola baru yang
sebenarnya bertujuan baik.
Dampak palsu yang dibuat
buat oleh si juru kunci berdampak ke semua orang. Tempat itu terang benderang,
tapi karena satu mulut, seluruh kampung memilih percaya pada gelap. Kuncinya
bukan di gerbang, tapi lidah si juru kunci tua.
Inilah mengapa kita harus
selalu mencari tahu terlebih dahulu
sebelum membuat kesimpulan. Mana ada maling mengaku kalau dirinya maling?
Setelah mahasiswa itu
pulang, malam itu bentrokan pecah, beruntungnya ia menurut dan sudah pulang.
Betapa polosnya orang ini ... Terkadang tidak tahu justru lebih baik daripada
tahu segalanya tapi digunakan untuk menyakiti.
Share It On: