Penguatan Ekosistem Multibahasa, Labschool Unesa Resmikan Program SABALNESA
Surabaya – Labschool Unesa kembali menegaskan komitmennya sebagai sekolah multibahasa melalui program baru bernama “SABALNESA Labschool Unesa (SABALNESA)”. Program ini dirancang untuk memperkuat kompetensi bahasa asing siswa secara terstruktur, menyenangkan, dan berkelanjutan dalam kegiaan eksrakurikuler.
Berbeda dari program ekstrakurikuler pada umumnya, SABALNESA hadir melalui kolaborasi strategis bersama Fakultas Bahasa dan Seni Unesa. Mahasiswa dari berbagai program studi akan terlibat langsung sebagai pendamping belajar siswa selama satu semester ke depan. Mahasiswa yang terlibat berasal dari program studi S-1 Pendidikan Bahasa Inggris, S-1 Pendidikan Bahasa Jerman, S-1 Pendidikan Bahasa Jepang, S-1 Pendidikan Bahasa Mandarin, S-1 Sastra Inggris, dan S-1 Sastra Jerman. Kolaborasi ini tidak hanya memberikan pengalaman autentik bagi siswa, tetapi juga menjadi ruang praktik nyata bagi mahasiswa calon pendidik bahasa.
Sebagai penanda dimulainya program, pada Senin, 2 Maret 2026, telah dilaksanakan technical meeting di Fakultas Bahasa dan Seni Unesa. Pertemuan ini dihadiri oleh jajaran dekanat, para koordinator program studi, mahasiswa FBS yang akan terlibat dalam program, serta pimpinan lembaga Labschool Unesa dan para kepala sekolah. Kegiatan tersebut menjadi forum koordinasi awal untuk menyelaraskan konsep, teknis pelaksanaan, serta komitmen bersama dalam menyukseskan implementasi SABALNESA selama satu semester ke depan.
Kepala Lembaga Labschool, Sujarwanto, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memperkuat empat keterampilan utama berbahasa. “Bentuk kegiatan dari program ini adalah pembelajaran di dalam dan luar kelas untuk mendukung pengembangan kompetensi siswa dalam speaking, listening, reading, dan writing empat bahasa—Inggris, Mandarin, Jepang, dan Jerman,” ujarnya. Pendekatan yang digunakan tidak semata berbasis teori, tetapi lebih pada praktik komunikatif yang aplikatif dan kontekstual. Siswa akan diajak menggunakan bahasa asing sebagai alat komunikasi aktif, bukan sekadar mata pelajaran.
Sementara itu, Kepala Pusat Akademik dan Kesiswaan Labschool, Ricky Setiawan, menekankan bahwa setiap aktivitas telah dirancang sesuai tahap perkembangan siswa. “Aktivitasnya akan menyesuaikan dengan jenjang pendidikan para siswa. Bisa berupa menyanyi, storytelling, drama, diskusi, hingga pidato dan debat. Semua disesuaikan dengan kemampuan dasar pada tiap jenjang,” jelasnya.
Untuk jenjang dasar, kegiatan akan lebih banyak berbasis permainan bahasa, lagu, dan cerita interaktif. Sementara pada jenjang menengah dan atas, pendekatan lebih diarahkan pada diskusi kritis, presentasi, hingga simulasi debat yang membangun kepercayaan diri dan kemampuan berpikir global.
Program ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Labschool Unesa dalam membangun ekosistem pendidikan multibahasa. Di tengah era globalisasi dan mobilitas internasional yang kian terbuka, penguasaan lebih dari satu bahasa menjadi kompetensi penting untuk membuka akses budaya, peluang akademik, dan masa depan karier.
Hadirnya SABALNESA semakin menegaskan langkah Labschool Unesa sebagai sekolah yang unggul dalam karakter dan prestasi akademik, sekaligus siap menjawab tantangan global.
Share It On: