University of Sydney Kunjungi Labschool Unesa, Bahas Penguatan Pendidikan Inklusif hingga Rintis Kerja Sama Internasional

Labschool.unesa.ac.id,
SURABAYA—Labschool Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menerima kunjungan
akademik dari University of Sydney, Australia, pada Selasa, 3 Februari 2026 di
kompleks Labschool Unesa Lidah Wetan, Surabaya.
Kunjungan
ini menjadi forum berbagi praktik terbaik sekaligus penjajakan kerja sama dalam
penguatan pendidikan inklusif, terutama terkait pendampingan peserta didik
berkebutuhan khusus (ABK).
Kepala
Badan Labschool Unesa, Sujarwanto menjelaskan bahwa Labschool Unesa tengah
menyiapkan layanan yang lebih komprehensif bagi siswa disabilitas. Karena itu,
diskusi dengan University of Sydney menjadi momentum penting untuk
menyelaraskan pendekatan pendidikan yang adil bagi semua kalangan termasuk
siswa disabilitas.
“Labschool
Unesa kan ada siswa disabilitas. Nah, di University of Sydney itu ada prodi
pendidikan luar biasa. Maka tadi kami berdiskusi tentang bagaimana proses
pendidikan dan penanganan siswa disabilitas di lingkungan Labschool Unesa,”
ujar Profesor Bidang Manajemen Pendidikan Khusus FIP tersebut.
Lebih
lanjut, Sujarwanto menambahkan bahwa pertemuan tersebut turut membahas proses
penerimaan siswa, perancangan pembelajaran, dan berbagai peluang penguatan
kolaborasi. Ke depan pihaknya juga mulai membuka kemungkinan kerja sama yang
lebih terstruktur, termasuk rintisan program sister school yang berfokus pada
layanan bagi anak berkebutuhan khusus.
Sementara
itu, Ricky Setiawan, Kepala Pusat Akademik dan Kesiswaan Labschool Unesa,
menyampaikan bahwa rombongan University of Sydney terdiri atas dua dosen dan 15
mahasiswa yang fokus pada bidang pendidikan inklusif. Ia menjelaskan bahwa
kegiatan dimulai dengan penyambutan di ruang kepala sekolah SMA Labschool,
sebelum para mahasiswa dibagi menjadi empat kelompok untuk melakukan observasi
lapangan.
“Masing-masing
grup ada yang observasi ke TK, SD, SMP, dan SMA Labschool Unesa Lidah Wetan.
Pembagian ini memungkinkan para mahasiswa melihat langsung bagaimana praktik
pendidikan inklusif diterapkan di setiap jenjang, termasuk dinamika
pembelajaran, interaksi siswa berkebutuhan khusus, serta peran guru pendamping
khusus dalam mendampingi proses belajar di kelas," jelasnya.
Kepala
SMA Labschool UNESA 1 Surabaya, Dewi Purwanti, turut memaparkan bahwa observasi
mahasiswa University of Sydney berfokus pada praktik pembelajaran inklusif di
kelas.
"Kedatangan University of Sydney ke SMA Labschool Unesa 1 bertujuan untuk melakukan observasi terkait interaksi anak berkebutuhan khusus di dalam kelas selama proses pembelajaran berlangsung,” jelasnya.

Ia
menambahkan bahwa kegiatan tersebut berlanjut dengan sesi FGD yang membahas
berbagai pengalaman serta tantangan yang dihadapi guru dalam mendampingi siswa
berkebutuhan khusus. Melalui forum ini, sekolah berharap dapat semakin
menguatkan kapasitas guru dalam membimbing siswa ABK dan menciptakan lingkungan
belajar yang lebih positif, inklusif, serta sesuai dengan kebutuhan
masing-masing peserta didik.
Adapun
sekolah yang menjadi lokasi observasi mencakup SMA Labschool Unesa 1 Surabaya,
SMP Labschool Unesa 3 Surabaya, SD Labschool Unesa 2 Surabaya, dan TK Labschool
Unesa 2 Surabaya.
Kegiatan
ini tidak hanya memperkuat jejaring internasional, tetapi sekaligus menegaskan
komitmen Labschool Unesa untuk menghadirkan layanan pendidikan inklusif dari
jenjang dasar hingga menengah.
***
Reporter:
Mochammad Ja'far Sodiq
Foto:
Tim Humas Labschool Unesa
Share It On: