Mengenalkan AI kepada Anak Sesuai Usianya
Akhir tahun 2024 lalu, Menteri Pendidikan menyampaikan dalam sebuah wawancara pers bahwa coding dan artificial intelligence (AI) akan dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah. Sejak saat itu, berbagai langkah dilakukan untuk merealisasikan kebijakan tersebut — mulai dari bimbingan teknis bagi guru pengajar coding dan kecerdasan artifisial hingga pelatihan bersertifikat untuk murid dan pendidik.
Namun, proses transisi yang singkat ini menimbulkan kekhawatiran. Banyak praktik pembelajaran lebih menekankan pada cara menggunakan AI daripada memahami konsep dasarnya. Jika murid hanya diajarkan penggunaan aplikasi, AI bisa menjadi sekadar jalan pintas dalam belajar. Padahal, yang lebih penting dan harus dikenalkan kepada murid adalah literasi AI.
Istilah Literasi AI pertama kali diperkenalkan oleh Burgsteiner et al. (2016) dan Kandlhofer et al. (2016) sebagai kompetensi untuk memahami pengetahuan dan konsep dasar tentang kecerdasan artifisial. Lebih lanjut, Long dan Magerko (2020) mendefinisikannya sebagai serangkaian kompetensi yang memungkinkan individu untuk mengevaluasi secara kritis, berkomunikasi, dan berkolaborasi secara efektif dengan AI. Dengan memahami makna literasi AI ini, pendidikan tentang kecerdasan artifisial di sekolah seharusnya tidak berhenti pada penggunaan berbagai aplikasi berbasis AI, tapi lebih fokus pada pemahaman konseptual, etika penggunaan, serta kemampuan berpikir kritis terhadap teknologi. Literasi inilah yang menjadi fondasi agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga pencipta dan pengembangnya di masa depan.
Berikut adalah beberapa aktivitas belajar yang dapat dilakukan dalam pembelajaran AI di sekolah ataupun di rumah.
PAUD
Pembelajaran AI untuk anak usia dini dapat dimulai dengan pengenalan konsep dasar yang sederhana dan kontekstual. Guru maupun orang tua bisa memperkenalkan teknologi AI yang sering ditemui dalam kehidupan sehari‑hari, seperti voice assistant pada ponsel, face recognition pada sistem keamanan handphone dan stasiun, atau filter wajah di aplikasi video call.
Pada tahap ini, anak belum diajarkan konsep teknis, tapi diberikan pengalaman bahwa:
Komputer dapat mendengar dan melihat
Teknologi bekerja berdasarkan contoh
Teknologi bisa salah
Ada risiko penyalahgunaan deepfake untuk penipuan dan penculikan, dan bagaimana mengantisipasinya
SD
Di tingkat sekolah dasar, anak mulai mampu memahami perbedaan antara teknologi yang menggunakan AI dan teknologi biasa. Guru dan orang tua dapat mengajak anak untuk mengidentifikasi teknologi yang menggunakan AI di lingkungan rumah atau sekolah. Misalnya, robot penyedot debu ada yang bekerja sederhana hanya dengan bergerak maju dan berputar ketika menabrak benda (tanpa AI), namun ada juga yang menggunakan AI untuk memetakan ruangan, mengenali rintangan, dan menentukan jalur pembersihan terbaik. Melalui observasi langsung, anak akan lebih mudah memahami bagaimana AI hadir di kehidupan mereka sehari - hari.
Pada usia ini, anak juga sudah siap diperkenalkan pada konsep dasar bagaimana AI belajar dari data. Platform pembelajaran visual, seperti Teachable Machine atau machine learning for kids dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran. Melalui platform tersbeut, anak dapat mencoba membuat model sederhana untuk mengenali gambar, suara, atau gerakan. Proses mencoba, menguji, dan memperbaiki ini membantu mereka memahami bahwa AI belajar melalui contoh dan tidak selalu sempurna. Dengan demikian, pembelajaran AI di tingkat sekolah dasar dapat menjadi pengalaman eksploratif yang menyenangkan sekaligus memberikan fondasi awal tentang bagaimana teknologi AI bekerja.
SMP
Di tingkat SMP, murid mulai dapat dikenalkan pada machine learning dan generative AI (genAI) dengan cara yang lebih terstruktur. Pada tahap ini, penguatan etika penggunaan AI menjadi sangat penting karena murid sudah mulai altif menggunakan internet, media sosial, dan berbagai platform digital. Mereka perlu memahami isu-isu utama seperti privasi data, plagiarisme, bias algoritma, misinformation, serta pentingnya verifikasi informasi sebelum membagikannya. Pemahaman ini akan membantu murid menggunakan AI secara bijak dan bertanggung jawab dalam kegiatan belajar maupun kehidupan sehari-hari.
Selain aspek etika, mereka juga dapat mulai mempelajari dasar-dasar pemrograman untuk memahami logika di balik sistem AI. Pembelajaran tidak harus langsung kompleks, tapi lebih difokuskan pada pola pikir komputasional dan proses pengambilan keputusan oleh mesin. Guru dapat memanfaatkan platform seperti Scratch untuk membuat proyek interaktif dengan drag-and-drop atau Hugging Face untuk mencoba model AI sederhana secara visual. Ketika murid sudah lebih siap, mereka dapat mulai beralih ke bahasa pemrograman Python untuk membuat program sederhana. Pendekatan bertahap ini membuat pembelajaran AI di tingkat SMP tetap menyenangkan, terarah, dan relevan dengan perkembangan teknologi saat ini.
SMA
Pada jenjang SMA, murid mulai mempelajari konsep kecerdasan buatan dengan pendekatan yang lebih mendalam dan kontekstual. Guru dapat mengajak murid untuk mengidentifikasi berbagai bentuk AI yang sebenarnya sudah mereka gunakan setiap hari, terutama yang tersembunyi di berbagai aplikasi handphone seperti rekomendasi konten, filter kamera, analisis aktivitas, hingga fitur prediksi teks. Dari sini, murid diajak memahami bahwa AI bukan sekadar teknologi masa depan, tetapi bagian dari kehidupan yang mereka hadapi saat ini.
Pembelajaran kemudian dapat diarahkan pada pemahaman cara kerja model machine learning (ML) yang umum digunakan, seperti regresi untuk memprediksi nilai numerik, klasifikasi untuk mengelompokkan data ke dalam kategori, klastering untuk menemukan pola tersembunyi, hingga reinforcement learning yang memungkinkan agen belajar melalui pengalaman. Penjelasan tidak perlu sampai ke rumus atau perhitungan matematis yang kompleks. Fokus utamanya adalah memahami bagaimana data digunakan untuk melatih model, bagaimana model membuat keputusan, serta bagaimana mengevaluasi hasilnya.
Untuk memperkuat pemahaman, murid dapat membuat berbagai proyek berbasis AI yang relevan dengan kehidupan mereka. Misalnya, proyek deteksi ekspresi wajah menggunakan data gambar, pembangunan chatbot sekolah yang bisa menjawab pertanyaan seputar informasi akademik, atau model prediksi peluang diterima di program studi tertentu berdasarkan nilai dan minat. Melalui proyek-proyek tersebut, murid tidak hanya belajar konsep AI, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan etika digital dalam penggunaan teknologi AI.
Share It On: